Tuesday, April 05, 2016

Boychoir

Ada sebuah film terbit di 2015 yang sebetulnya bisa menarik para pecinta musik, khususnya musik paduan suara. Boychoir yang dibintangi oleh banyak aktor/aktris berprestasi seperti two-time Oscar-winner Dustin Hoffman, Oscar-winner Kathy Bates, two-time Emmy winner Eddie Izzard, three-time Oscar-nominee Debra Winger, Josh Lucas (A Beautiful Mind) and Kevin McHale (Glee). Sayangnya filmnya hanya sempat beredar 1 hari di Blitz Cinema, dan setelahnya raib - entah apa alasannya bioskop Indonesia tidak mau menayangkan film ini.
Karena penasaran; akhirnya saya berhasil mendapatkan digital copy dari film ini dan menontonnya. Secara umum film ini sanggup memberikan ‘spa’ untuk telinga saya lewat suara-suara boychoir yang niscaya malaikat yang membawakan beberapa lagu yang sudah cukup dikenal gubahan dari Handel, Britten, Tallis dan Mendelssohn.
Tetapi yang lebih menggelitik adalah pesan yang dibawa oleh film ini. Film ini mengisahkan seorang anak ‘bermasalah’ bernama Stet yang hidup dengan ibu yang alkoholik di sebuah kota kecil di negara bagian Texas. Stet sebenarnya memiliki talenta bernyanyi yang sangat disadari oleh si kepala sekolah di sekolah umum dimana Stet menuntut ilmu; sayangnya sekolah itu tidak memiliki program musik yang bisa mendukung talentanya.
Jalan Tuhan memang tidak terselami; karena tewasnya si Ibu akibat kecelakaan; menyebabkan sang ‘ayah’ yang awalnya tidak mau berurusan sama sekali dengan ‘anak haram’nya ini harus muncul dan memikirkan nasib Stet. Singkat kata akhirnya Stet dimasukkan ke sebuah sekolah swasta khusus anak laki-laki di East Coast yang memiliki program paduan suara anak laki-laki yang ternama dibawah asuhan sang maestro Anton Carvil (Dustin Hoffman).
Disinilah Stet yang awalnya cuek menjadi jatuh cinta dengan paduan suara. Ternyata jatuh cinta saja tidak cukup, Stet belajar apa itu kerja keras untuk dapat melantunkan karya-karya indah itu lewat pita suara pemberian Tuhan itu, belajar membaca notasi, belajar teknik vokal dan lain sebagainya. Ternyata Stet tidak sendirian, karena sekolah itu dipenuhi anak-anak laki-laki yang berambisi untuk menjadi nomor satu, menjadi pemilik suara paling indah, paling berprestasi sehingga dapat tampil dalam tur-tur paduan suara yang diadakan sekolah.
Saya tidak akan menceritakan hingga akhir; tetapi film ini sekali lagi mengobarkan kecintaan saya dengan musik paduan suara. Sungguh suatu ‘titipan’ Tuhan yang berharga saat DIA menitipkan ‘seutas otot’ kecil di dalam kerongkongan Anda untuk dapat melantukan keindahan musik surgawi. Semoga ulasan ini menginspirasi siapapun pembacanya untuk mau mensyukuri setiap talenta yang Tuhan sudah titipkan pada diri kita.

No comments:

Kesepian di Masa Kuncitara

Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya u...