Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya untuk melakukan PPKM darurat dilakukan guna menghambat penyebaran si Virus nakal ini. Apapun istilah yang dipakai, yang kita ketahui adalah kuncitara / lockdown memakan kita untuk masuk dalam suatu "penjara kecil".
Bagi orang yang cukup extrovert seperti saya, terkurung dalam rumah, sendiri, memperhadapkan dengan suatu rasa kesepian. Bersyukur dalam perjalanan hidup, saya telah belajar tentang menghadapi kesepian yang sangat menyiksa kira-kira 6 tahun yang lalu. Ketika itu saya belajar dari tulisan yang diberikan oleh seorang sahabat. Ternyata saya pernah mem-post dalam blog ini 6 tahun yang lalu di bulan yang sama. Kutipan dalam bahasa inggris itu saya coba terjemahkan agar dapat membantu Anda yang saat ini membaca Blog ini:
Dalam menghadapi kesepian (atau luka apapun) – Henri Nouwen
“Saya memutuskan untuk menjalani suatu kehidupan di Amerika
Serikat, dan saya mengalami penderitaan dan kehilangan mendalam akan
persahabatan, tetapi perlahan saya mulai menyadari bahwa pengalaman kesepian
dan pengalaman keterpisahan mungkin bukan suatu hal yang negatif. Hal ini, saya
pikir, membawa saya lebih terhubung dengan orang lain yang mengalami kesepian juga.
Jika saya tidak lari daripadanya, melainkan merasakan hal ini (kesepian) secara
keseluruhan, mungkin nanti akan berbuah.
Tetiba saya mendapatkan ide ini mengenai kesepian, yaitu
suatu penderitaan/luka, ketika kamu tidak melarikan diri daripadanya, melainkan
merasakan sepenuhnya, dan berada di dalamnya, dan menghadapinya langsung tepat
di depan muka; maka kemudian ada sesuatu di dalamnya yang merupakan sumber pengharapan,
di tengah penderitaan, ada hadiah yang tersembunyi. Saya, semakin lama menjalani hidup, telah menemukan bahwa hadiah-hadiah dalam kehidupan sering kali
tersembunyi di dalam tempat-tempat yang paling menyakitkan. Saya mengatakan hal
ini supaya kamu dapat bertahan menghadapi penderitaan. Saya pikir satu tantangan
besar dalam hidup adalah untuk berani menghadapi penderitaan / lukamu, dan
untuk percaya bahwa ada sesuatu yang aman dibalik itu. Yang akan mulai terjadi, jika kamu bersedia menghadapi penderitaanmu, adalah akan ada suatu seperti
perasaan aman yang timbul dibalik penderitaan itu; ternyata hal itu tidak menyeramkan
seperti yang kau pikirkan, dan dibalik kesepianmu, akan ada suatu pengalaman dekapan
yang aman….
Saya sudah cukup banyak mengalami situasi dimana jika saya
mengalami kesepian atau kecemasan, saya coba mengalihkan perhatian saya. Saya melakukan
sesuatu sehingga saya tidak harus merasakan kesepian itu. Tetapi hal itu selalu
memberikan kekecewaan, dan saya bahkan akan merasa lebih kesepian; atau lebih
cemas lagi. Sampai akhirnya saya menemukan, jika saya bertahan dengan perasaan
itu, dan melalui (kesepian) itu dengan sepenuhnya. Bukan hanya menerima kesepian
itu, tetapi mengecapnya, mengunyahnya. Saya akan berkata kepada diri saya
sendiri, “Ya, saya kesepian, dan biarlah saya merasakan kesepian ini.”
Saya telah menemukan bahwa ternyata kekuatan yang saya miliki
jauh lebih besar daripada yang kusadari, dengan kata lain, kekuatan itu
tidak datang kepada saya, tetapi kekuatan itu sungguh datang dari 1 Pribadi
yang menggenggam saya, yang mengasihi saya jauh sebelum saya dilahirkan; dari 1
Pribadi yang akan mencintai saya bahkan sampai jauh setelah saya mati. Ini
bukan hal intelektual. Yesus bagi saya adalah pusatnya. Yesus bagi saya adalah
Pribadi yang menolongku menemukan bahwa Allah telah mengasihi saya jauh sebelum
saya dilahirkan, dan akan tetap mengasihi saya jauh setelah saya mati. Kasih
Allah yang telah ada jauh sebelum dan sesudah manusia lain menyentuh saya.
Misteri dalam pengenalan akan Yesus adalah misteri tentang pengenalan akan Allah
yang mampu merangkulku lebih luas dan dalam melampaui apa yang orang lain bisa
lakukan.
Hal ini terdengar cukup teoritis, tapi saya secara perlahan
telah menemukannya dalam hidup melalui banyak penderitaanku, kekecewaanku, dan
usahaku sendiri melarikan diri ke berbagai tempat.”
Henri Nouwen – dikutip dari NOUWEN oleh Christopher de Vinck

No comments:
Post a Comment