Beberapa hari lalu saya menonton ulang sebuah DVD yang pernah saya tonton dulu, mungkin beberapa tahun lalu. Judulnya Ron Clark Story - sebuah kisah nyata mengenai seorang guru. Dan sekali lagi DVD ini membuat saya menangis,... dan berpikir.
Dikisahkan seorang guru dari kota kecil di North Carolina yang mempunyai karir yang bagus karena beliau selalu berhasil meningkatkan prestasi dari murid-murid yang diajarnya. Setelah memperoleh keberhasilan di kota kecil itu, Ron tidak tinggal puas, malahan dia ingin pindah mengajar ke sekolah yang memang membutuhkan. Singkat cerita akhirnya dia pindah mengajar ke sebuah sekolah di daerah harlem (daerah kulit hitam) di New York City.
Bukan saja Ron mengajar di sekolah non-unggulan di harlem, tetapi dia juga memilih menangani kelas dari anak-anak yang bermasalah. Kelas ini dalam setahun diajar oleh 6 guru yang berbeda karena tidak ada guru yang dapat bertahan mengajar kelas ini.
Murid-murid kelas 'khusus' ini terdiri dari anak-anak yang karena kondisi keluarga atau lingkungan yang keras membuat mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup, selalu di cap 'loosers' dan mereka pun sudah tidak berharap akan dapat lulus dari sekolah. Tetapi Ron tidak percaya itu. Didasari dengan keyakinan bahwa setiap orang mampu belajar, dan juga kepeduliannya yang tulus akan setiap anak di dalam kelas tersebut, Ron berhasil mencuri hati murid-murid 'khusus' ini.
"We are Family" adalah aturan nomor satu yang diberikan Ron kepada anak-anak tersebut, dan ia membuktikan bukan hanya dengan kata-kata tetapi lewat hati dan seluruh hidupnya yang tercurah untuk 'menyelamatkan' nasib kelas ini. Diakhir cerita, tentunya murid-murid kelas ini mengalami peningkatan yang luar biasa, bahkan mereka mendapatkan nilai ujian melampaui murid-murid di kelas unggulan.
Cerita klasik "orang baik akan menang pada akhirnya" ini menjadi menarik karena ini adalah kisah nyata. Ron Clark benar-benar ada, dan dia benar-benar pernah mengajar di sekolah di harlem New York, dan dia benar berhasil mengangkat prestasi (dan nasib) dari anak-anak tersebut. Ron Clark memperoleh predikat The Best Teacher of the year di tahun 2000.
Suatu pertanyaan jujur yang saya tanyakan pada diri saya sendiri saat ini, apakah saya dalam pekerjaan saya memiliki dedikasih dari hati dan memiliki alasan bekerja yang lebih dari sekedar mendapatkan uang dan menghabiskan waktu?
Sebuah jargon orang kristen adalah "Bekerja Untuk Tuhan dan Bukan Untuk Manusia" - apakah jargon ini hanya sekedar kalimat indah atau memang dapat diaplikasikan?
Mudah menyanyikan lagu: " Brikan ku hati seperti hati Mu, brikan ku tanganMu untuk melakukan tugas Mu...." Dan Tuhan mampu saja memberikan 'hati' dan 'tangan'nya untuk kita. Tetapi pertanyaannya apakah kita mau menerima "beban" itu memiliki hati dan tangan seperti Tuhan dalam melakukan pekerjaan kita?
Pertanyaan ini, adalah pertanyaan yang saya harus renungkan, pikirkan dan kemudian dengan hati-hati menjawab dengan jujur.
(untuk melihat lebih lagi tentang Ron Clark, kunjungi http://www.ronclarkacademy.com )
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kesepian di Masa Kuncitara
Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya u...
-
Sudah seminggu ini gw 'jauh' dari internet... kali ini alasannya bukan sibuk, tapi lagi on vacation... caeelah hehe..! Last Friday, ...
-
Terakhir ini aku banyak merasa.. tersentuh dalam banyak rasa. Rasa indah, pahit, gemar, sakit. Rasa yang bermain, rasa yang melenggok, menar...
-
Indonesia, atau tepatnya Jakarta saat ini sedang berusaha untuk menanggulangi tingkat kasus terpapar Covid19 yang semakin meningkat. Upaya u...
No comments:
Post a Comment